Monolog: Air, Burung dan Nenek Moyang

Senin, 25 Juni 2012

Pameran Photography yang diselenggarakan Bidik Photography di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung pada tanggal 25-29 Juni 2012 menjadi sangat teatrikal ketika acara pembukaannya dilakukan tidak dengan cara biasa. Para Anak Negeri yang menjadi burung-burung beredar diantara pengunjung dan menarik lembar demi lembar kain yang membungkus figura-figura photo.

Tubuh-tubuh mungil para Anak Negeri berseliweran diantara para tamu yang berdiri menyaksikan monolog Air, Burung dan Nenek Moyang, karya Iman Soleh dan Phelen Philip Baldini yang dibawakan Boni Avibus dan Teater Anak Negeri-nya. Naskah ini disutradarai oleh Semesta dan dikolaborasikan dengan kegiatan pembukaan pameran dengan sangat apik sehingga menjadi suatu rangkaian yang harmonis dan banyak memberikan kejutan bagi para tamu.

Gladi

behind the stage

Para Anak Negeri dan Bidik Photography



Casting Menjadi Host yang Menjadi Sarana Pelatihan

Senin, 31 Oktober 2011

Menggarap sisi entertainment dari seni Teater tetap dilakukan oleh Teater Anak Negeri walaupun konsep dasarnya adalah sarana pelatihan teater untuk mengembangkan kemampuan individu dan kolektif.

Kemampuan individu di Teater Anak Negeri adalah kecakapan merefleksikan diri, pengendalian emosi, kemampuan memotivasi diri sendiri, pengembangan imajinasi, pengembangan kreatifitas serta peningkatan kecerdasan kognitif dan psikomotorik dan lainnya.

Kemampuan kolektif di Teater Anak Negeri adalah kecakapan berkomunikasi, berinteraksi, berorganisasi (berbagi), kesadaran tentang ruang dan lainnya.

Sisi sebagai penyaji kesenian (entertainer) dari teater tidak menjadi hal utama sehingga jika kemudian anggota Teater Anak Negeri mampu tampil sebagai entertainer, maka hal itu menjadi bonus dari hasil pelatihan dan kerja keras anggota Teater Anak Negeri.

Salah satu pelatihan kemampuan individu, kemampuan kolektif yang sekaligus mendekatkan pada bonus menjadi entertainer yang digarap Teater  Anak Negeri bersambut dengan undangan IMTV, sebuah stasiun televisi lokal di Bandung dalam kegiatan perekrutan host kanak-kanak pada Jum'at 28 Oktober 2011 yang baru lalu.

Pengalaman baru bagi anak-anak untuk mengenal dunia siaran televisi yang disampaikan dengan tujuan meningkatkan kapasitas, membuat anak-anak mampu menahan keinginan instan menjadi populer dengan memilih (dan menentukan sendiri) tidak menjadi peserta casting bagi sebagian besar anggota Teater Anak Negeri sehingga kegiatan ini kemudian lebih menjadi upaya memotivasi mengembangkan kecakapan untuk dapat tampil maksimal agar lebih siap dalam dalam setiap peluang yang terbuka di masa yang akan datang.

Bagi Anggota Teater Anak Negeri, kegiatan ini juga menjadi penyadaran bagaimana seorang Boni Avibus, salah satu anggota dalam lingkaran Teater Anak Negeri menunjukan kecakapan terbaiknya sebagai Aktor Teater untuk menguasai dialog, kamera dan ruang dengan melampaui kapabilitas anak-anak lainnya yang datang dari berbagai agensi pelatihan presenter yang mempunyai jaringan nasional dan menyediakan pelatihan-pelatihan instan (yang mungkin juga) dilengkapi berbagai media dan alat-alat pendukung pelatihan layaknya studio televisi.

Bagi Teater Anak Negeri, menjadi Entertainer adalah Bonus dari kecakapan individu dan kolektif yang sebenarnya. Salam Budaya.


Program Pelatihan Teater Anak Negeri

Kamis, 13 Oktober 2011

I. Pelatihan Dasar Teater
   Teater Anak Negeri mempunyai 3 program pelatihan teater sebagai berikut:

  1. Latihan Reguler Ekstrakurikuler adalah pelatihan yang dilakukan bekerjasama dengan sekolah formal dengan muatan materi peningkatan kapasitas individu (30 Sesi) dan kapasitas kolektif (30 Sesi). Perform/pementasan lebih dikuatkan dalam pementasan kelompok, jika kemudian mampu tampil secara individu, maka itu adalah bonus dari kerja kerasnya.
  2. Latihan Reguler XCTAN adalah pelatihan yang dilakukan dalam komunitas kecil sekurang-kurangnya 4 peserta + 1 L.O dengan muatan materi kapasitas individu (30 Sesi) dan kapasitas kolektif (30 Sesi), Perform/pementasan lebih dikuatkan dalam pementasan kelompok, jika kemudian mampu tampil secara individu, maka itu adalah bonus dari kerja kerasnya.
  3. Latihan intensif XCTAN adalah pelatihan intensif dengan muatan materi kapasitas individu (30 Sesi) dan kapasitas kolektif (10 Sesi) plus promosi khusus pada pementasan/casting individu. 

II. Pelatihan Teater Lanjutan I
Pelatihan Teater Lanjutan diberikan pada Anggota Original yang telah menyelesaikan pelatihan dasar teater 60 sesi, berupa pembekalan kapabilitas mentransfer pengetahuannya serta sebagai persiapan untuk dapat menjadi inti sel baru dari pelatihan Teater Anak Negeri. Selain pembekalan pelatihan mengajar teater, Anggota juga akan mempelajari peran-peran dibelakang panggung dalam suatu pertunjukan secara keseluruhan. Latihan lanjutan ini minimal diikuti dalam 90 sesi.


III. Pelatihan Teater Lanjutan II 
Anggota berlatih untuk mengembangkan kemampuan istimewanya yang tidak terbatas hanya pada kesenian saja dan mengkolaborasikannya menjadi suatu bentuk pertunjukan yang dapat diapresiasi publik secara umum (jumlah sesi yang diikuti dapat bervariasi sesuai kematangan personal).


IV. Pelatihan Teater Lanjutan III 
Pelatihan tahap 3 akan lebih menekankan pada sastra dan membuat karya tulis untuk melengkapi kemampuan verbal yang telah diolah pada pelatihan sebelumnya (jumlah sesi yang diikuti dapat bervariasi sesuai kematangan personal).


V. Final
Ini adalah tahap dimana anggota dapat berlatih mengambil peran-peran organisasi komunitas, terlibat dalam desain pelatihan dan pementasan, berbagi pengetahuan serta aplikasi dari berbagai hal yang telah mereka pelajari dan menjadi pembimbing Anggota Original Muda atau menjadi inti sel baru dari Teater Anak Negeri dan mematangkan diri (jumlah sesi yang diikuti dapat bervariasi sesuai kematangan personal).

Catatan Boni Avibus dari Mimbar Teater Indonesia #2

Sabtu, 01 Oktober 2011


Ini adalah kedua kalinya aku berkumpul dengan Seniman-Seniman teater se-Indonesia setelah HUT FTI 2008 di Taman Ismail Marzuki Jakarta dengan orang-orang yang berbeda. Tidak hanya menyaksikan karya-karya om Putu Wijaya yang ditampilkan oleh seniman-seniman besar teater se-Indonesia yang membuat aku mendapat pelajaran baru, tetapi penampilanku di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta (10/10/2010) melalui naskah karya om Putu Wijaya yang berjudul Tok Tok Tok juga dapat disaksikan oleh mereka dan yang pasti om Putu Wijaya yang juga hadir, tampak puas menyaksikan karyanya dapat aku sajikan dengan sebaik mungkin. 

Naskah yang aku bawakan ini ditulis om Putu pada tgl. 11 April 2010 dan aku mendapat kehormatan sebagai orang pertama yang menyajikannya. Isi naskahnya sangat aku sukai karena mengajarkan tentang kehidupan. Kita tidak boleh takut untuk menjalani hidup, kita harus mengenali, mempelajari dan merenungi masa depan sebelum terlambat. Ancaman keganasan, perang, teror, bencana alam dan lain-lainnya jangan membuat kita takut menghadapi hidup karena dunia pasti masih akan menyisakan keramahan dan keindahan. 

Sebelum di Teater Arena, naskah ini aku sajikan di SD Cemara 2 Solo (09/10/2010) dan ditonton oleh anak-anak seusiaku, mereka sangat ramai ketika aku turun dari panggung dan menjadikan mereka terlibat dalam pementasan, bahkan sesekali mereka menyahuti kalimat-kalimat yang aku ucapkan. Aku berharap setelah pementasanku di sekolah mereka ini, mereka dapat terinspirasi dan menyukai teater agar dapat mengembangkan kesenian dan kebudayaan kita menjadi lebih kreatif dan dan mendapat nilai-nilai kebaikan dari isi naskahnya. -Boni Avibus


Tersalur dalam Daya Cipta – menghadapi dorongan emosi

Tiga emosi pokok – rasa marah, rasa takut serta rasa senang – muncul dan berkembang sebagai sarana pelestarian diri. Meskipun emosi harus dikendalikan dengan sengaja, namun penekanan emosi secara tak sadar bisa berbahaya sehingga dapat meledak begitu saja dalam bentuk lain yang lebih menyakitkan, dan menimbulkan konflik kejiwaan atau kalau tidak, penyakit psikomatik. Membiarkan perasaan terungkap secara terbuka ikut memulihkan keseimbangan, karena menghilangkan ketegangan.

Seniman memiliki metode yang amat mengena untuk menguasai emosi: mengubah emosi menjadi seni. Contoh yang bagus adalah aktor, yang menggunakan emosinya sendiri guna menampilkan emosi tokoh yang diperankannya.

William Wordsworth, penyair Inggris abad ke-19, agaknya mengungkapkan pandangan setiap penulis ketika ia mendefinisikan puisi sebagai “luapan spontan perasaan yang kuat” yang bersumber pada “emosi yang diendapkan dalam ketenangan”. Pelukis Belanda Vincent Van Gogh, selagi menulis tentang kehidupan kreatif pelukis, bertanya: “Bukankah daya yang mendorong kita adalah emosi, ketulusan perasaan seseorang terhadap alam?”

Para Anak Negeri

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
 
Theme © Copyright 2009-2015 Teater AN | Blogger XML Coded And redesigned by Aubmotion