Seni Teater, Seni yang Melingkupi Seni Lainnya.

Rabu, 04 Mei 2011

Kursus musik, kursus vokal, kursus tari, kursus akting, kursus menggambar bahkan kursus modeling banyak didirikan para penggiatnya. Kursus-kursus ini mendapat respon positif dari para orang tua karena kursus-kursus ini nampak nyata membekali seorang anak dengan suatu kecakapan.

Meskipun perguruan tinggi seni mempunyai jurusan teater, namun tak seorangpun lulusannya yang berniat mendirikan kursus teater. Hal ini terjadi karena luasnya seni yang tercakup dalam pengajaran seni teater, sehingga sangat tidak mungkin menyelenggarakan kursus teater.

Para penggiat teater cenderung mendirikan sanggar teater yang menjadi wadah dari berbagai seni, dimana sanggar ini berfungsi menjadi tempat persilangan dan bersinerginya kecakapan individu dalam sebuah komunitas seni. Sanggar teater sebenarnya adalah tingkat perluasan (extension) dari kacakapan-kecakapan dasar (basic) dan lanjutan (intermediate), baik itu seni musik, seni tari dan berbagai ranah seni lainnya termasuk juga ranah-ranah sosial, ekonomi, tehnik dan lain-lain. Kecakapan-kecakapan dasar dan menengah ini diselaraskan dalam bentuk berkesenian.

Sanggar teater merupakan sarana pembelajaran seni dan aktifitas berkesenian yang sangat luas cakupannya, yang membutuhkan pemahaman terhadap seni sastra, seni peran, seni tari, seni deklamasi, seni suara, seni berorasi, seni musik, seni rupa, seni menata cahaya, seni berbusana, seni berorganisasi dan lain sebagainya, sehingga tidak bersifat temporer dan praktis.

Kemampuan bermusik, bernyanyi,menari dan lainnya diperkaya dan diperluas untuk dapat bersinergi satu sama lainnya sehingga menjadi sebuah pertunjukan yang lengkap. Seorang pemusik misalnya, harus mampu bersenyawa dengan suasana yang dibangun oleh aktor, atau bahkan menjadi aktor yang mampu mengekspresikan dialog dan mengekspresikan musik sebagai bagian dari script. Seorang pemusik yang memahami sastra akan dapat mengaransement dan menciptakan syair-syair indah. Seorang pemusik yang memahami naskah teater akan lebih memiliki empati atas kondisi sosial sehingga mampu menciptakan lagu-lagu abadi. Seorang pemusik yang mengerti marketing akan mampu mempromosikan dirinya untuk dapat diterima publik dan banyak lagi ekstensi lainnya.

Ditingkat perluasan wawasan, seseorang yang berinteraksi dengan berbagai kecakapan dapat semakin semakin kreatif karena saling terinspirasi.
Sebuah tarian daerah, dapat menjadi sangat imajinatif dan inspiratif ketika dipadu padankan dengan script teater yang sesuai, karena makna yang terkandung didalam tarian menjadi diperkuat dengan adanya sinergi kontent yang multi interprestasi.

Keleluasaan sanggar teater, memang seringkali menjadi bumerang karena proses pembentukan kecakapan tidak kentara secara langsung oleh orang yang tidak terlibat. Namun, bagi yang terlibat dalam proses tersebut, kekuatan untuk kembali dalam lingkaran seni teater seringkali sangat kuat ketika mereka meninggalkan teater untuk pencapaian-pencapaian lain dan mengalami stagnasi kreatifitas akibat rutinitas yang monoton.

0 komentar: on "Seni Teater, Seni yang Melingkupi Seni Lainnya."

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.


Tersalur dalam Daya Cipta – menghadapi dorongan emosi

Tiga emosi pokok – rasa marah, rasa takut serta rasa senang – muncul dan berkembang sebagai sarana pelestarian diri. Meskipun emosi harus dikendalikan dengan sengaja, namun penekanan emosi secara tak sadar bisa berbahaya sehingga dapat meledak begitu saja dalam bentuk lain yang lebih menyakitkan, dan menimbulkan konflik kejiwaan atau kalau tidak, penyakit psikomatik. Membiarkan perasaan terungkap secara terbuka ikut memulihkan keseimbangan, karena menghilangkan ketegangan.

Seniman memiliki metode yang amat mengena untuk menguasai emosi: mengubah emosi menjadi seni. Contoh yang bagus adalah aktor, yang menggunakan emosinya sendiri guna menampilkan emosi tokoh yang diperankannya.

William Wordsworth, penyair Inggris abad ke-19, agaknya mengungkapkan pandangan setiap penulis ketika ia mendefinisikan puisi sebagai “luapan spontan perasaan yang kuat” yang bersumber pada “emosi yang diendapkan dalam ketenangan”. Pelukis Belanda Vincent Van Gogh, selagi menulis tentang kehidupan kreatif pelukis, bertanya: “Bukankah daya yang mendorong kita adalah emosi, ketulusan perasaan seseorang terhadap alam?”

Para Anak Negeri

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
 
Theme © Copyright 2009-2011 Teater AN | Blogger XML Coded And redesigned by Aubmotion